MEDIASELEKTIF.COM - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China tampak terus berlanjut, bayangkan dari 2018 hingga sekarang menyebabkan negara lain terkena imbas termasuk Indonesia.
"Kebijakan tarif merupakan bagian dari perang dagang antara AS dan China yang berdampak terhadap ekonomi global," kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Khairul Mahalli saat berbincang pagi dengan media ini melalui telepon selular dari Jakarta, Sabtu (5/4/2025).
Dia menyebutkan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor mencapai 34 % untuk beberapa produk seperti elektronik, mobil, barang konsumsi, pakaian, mesin, peralatan, bahan baku termasuk produk pertanian seperti kedelai dan gandum mengakibat aktifitas perdagangan menurun.
"Apalagi negara Tirai Bambu pun tak mau kalah dengan merespon menaikkan tarif impor tinggi terhadap barang-barang dari negara Paman Sam. Justru itu, bagi Indonesia tak ada jalan lain kecuali meningkatkan produksi karena kita seperti saya katakan sebelumnya memilki potensi besar," ujar Mahalli yang juga Ketua Umum Kadin Sumut ini.
Menjawab pertanyaan tentang kinerja perdagangan antara Indonesia - AS, Mahalli menyebutkan perdagangan Indonesia-AS dalam tahun 2024 lalu terdiri Ekspor 26,31 miliar dolar AS. Impor 9,47 miliar dolar AS sehingga surplus 16,84 miliar dolar AS.
"Pangsa pasar ekspor produk Indonesia lainnya 30,89 %. China 26,40 %, Uni Eropa 6,18 %, ASEAN 18,72 %, Jepang 6,59 % dan AS 11,22 %> Perlu dicatat negara Paman Sam merupakan mitra dagang bagi Indonesia," rinci Mahalli, Ketua DPP Asosiasi Depo Logistik Indonesia (Asdeki) ini.
Dalam daftar yang dirilis pemerintah AS, imbuh Mahalli, produk ekspor Indonesia ke AS dikenakan tarif imbal balik 32 persen. Bahkan nilai tersebut belum termasuk tarif global 10 persen yang berlaku universal untuk semua barang yang masuk ke AS.(Tiar/MSC)